Monday, September 7

Dupe Posca!?

Postila Paint Marker by Sailor

Rp 25.000 – Rp 29.000 (Daiso product!! Harga yang tercantum dapat berubah tergantung Daiso di tempatmu. Yes! Dua Daiso di sekitarku harganya beda :’))

Varian: White, Gold



 

Hei!

Ini akan jadi review paling singkat. Kayaknya.

Jadi, ini adalah paint marker. Spidol yang isinya cat. Kayak Posca atau yang biasa kita temui di toko buku, Snowman White/Gold Paint Marker. Baru-baru ini, aku baru tau ada beberapa bran lain juga yang punya produk serupa, bakal ku-review di lain kesempatan, deh.

Begitu beli, harus dikocok-kocok dan ditekan di kertas sampai ujung nibnya kerendem cat sebelum dipakai. Setiap pemakaian harus dikocok biar catnya nyampur. Sebelum dipake harus test-drive dulu di kertas, karena catnya suka mbleber.



Catnya pekat banget. Opaque. 

Bisa dipake di permukaan putih/hitam, kertas maupun plastik. Bagus banget buat highlight atau sebagai base coat sebelum ngegambar (pengganti gesso). Kalau balik lagi ke Daiso, aku akan re-purchase. Karena selain lebih murah dari Posca, spidol ini lebih baik segala-galanya dibanding Gelly Roll atau Uniball Signo. For me, this paint marker is my new fave!

Sayangnya,

Spidol ini cuma terdiri dari tiga warna; Putih, Emas, Silver dan hanya satu ukuran.

Sebelumnya di Youtube aku pernah liat di Jepang mereka punya shade warna selengkap Posca dan size lebih kecil. Entah karena belum masuk Daiso Indonesia atau memang waktu aku beli produk ini udah sisaan jadi gak ada warna lain. Who knows?

Friday, September 4

Folkart Artist Varnish Gloss

Folkart Artist Varnish Gloss

Rp 43.000 ( Artland ) / 59ml


 

Helo dan hai, fellow artist!

Untuk kali ini, aku mau ngereview barang yang mengubah hidupku jadi serba berkilauan! 

Yes! It’s a varnish! And it's glossy!





Untuk yang belum familiar, secara singkat gue memberi tau bahwa varnish atau pernis adalah langkah akhir (opsional) dalam menggambar atau membuat karya. Kalau yang suka nail art, pasti kenalnya istilah top coat. Gunanya selain melapisi juga sebagai pelindung supaya cat atau karyamu lebih tahan lama, nggak rusak pas ketumpahan air, dan bebas mengelupas.

Sebenernya,

Ada banyak cara untuk mem-varnish. Ada yang bentuknya spray (contohnya clear pylox) dan ada yang dioles secara manual. Jenisnya juga banyak, loh! Ada yang hasil akhirnya matte, velvet, dan glossy.

Khusus untuk review kali ini, aku hanya akan ngebahas satu brand yang jarang terdengar (sejauh telinga gue mendengarkan omongan artist di sosmed) dan kebetulan gue temuin secara online; Folkart!

Untuk ukuran varnish, merk satu ini murah banget. Selama ini aku nyari dan hanya menemukan brand seperti Liquitex atau Mod Podge yang harganya ratusan ribu. Kalaupun ada yang harganya dibawah Rp50.000 biasanya tanpa merk dan dalam ukuran kurang dari 25ml. Untuk newbie kayak aku (terutama dalam dunia varnish), ukuran 59ml ini cukup untuk meng-explore. Sejauh review ini ditulis, aku udah nyobain di kertas, botol plastik, palette cat, dan case hp yang soft.

Hasilnya amazing!


Perbandingan sebelum dan sesudah di-varnish.


Beberapa karyaku berbahan cat akrilik, sebelum dikasih varnish, cenderung jadi matte and dull. Memang warna catnya keliatan tapi nggak lively dan teksturnya terlihat kasar. Sangat tidak cantik. Untuk yang suka painting case hp pasti bisa liat gimana hasil akhirnya. Warnanya dalam beberapa hari meredup, terutama kalau sering kena pegang tangan yang kotor / berminyak, dan pas dipegang juga terasa kasar.

Setelah dikasih varnish Folkart, warnanya jadi lebih menyala dan berkilau. Cat warna putih jadi gak pudar kalau dipegang-pegang dan beberapa kali kena tangan basah / goresan, gambarnya tetap intak. Tekstur kasar akibat tumpukan cat nggak menghilang, tapi kalau dipegang bakal beda feelnya. It feels smooth and much more comfortable to touch.

Varnish Folkart bisa dipakai untuk berbagai macam permukaan.

Sempet coba untuk ngelapis cat air di kertas cat air, yes it works! Nggak se-glossy kalau pakai akrilik atau permukaan plastik, sih. Tapi bisa keliatan bedanya. Jangan buru-buru ngalapisinnya, karna cat airnya lumayan keangkat dan jadi ‘smeared’ ke area lain. Nggak begitu ketara karna tetap transparan, but you might see the hint.


Perbandingan sebelum (besar) dan sesudah (kecil) di-varnish.


Untuk pensil warna dan kertas sketsa biasa... Hm, not good enough!

Bukan cuma ngangkat warna dari pensilnya, varnishnya meresap ke kertas dan ngebuat kertas jadi agak yellowish. Kayaknya, untuk pensil lebih rekomen untuk pake varnish yang spray.

Untuk aplikasinya, aku biasa pake flat brush dan direndem begitu selesai untuk mencegah brush jadi kaku. Selama varnish belum kering, brushnya bisa balik dipake melukis. Oh! Aku menyarankan untuk lapisi bagian yang dilukis aja (terutama pas ngelapisin casing bening), kalau mbleber, bakal keliatan ada lapisan bening yang timbul sendiri. Keliatan kayak ada lelehan gitu. Atau sekalian satu case dilapisin varnish daripada capek ngolesin yang kecil-kecil.



Jengjreeeng!

Sebelum lupa, aku mau ngasih tips untuk watercolorist out there. Coba deh aplikasiin varnish di palet / wadah mixing kalian yang licin (terutama wadah plastik yang masih baru). Dibanding ngegosok permukaannya pake amplas, pake varnish lebih cantik dan less energy to waste. It’ll do some magic!!

Belum banyak yang bisa kuceritain tentang varnish ini selain kecintaanku pada percobaan pertama. Sejujurnya aku penasaran dan pengen nyoba semua varian lain varnishnya. Terutama yang velvet finish. Hm, maybe for another time?

Saturday, August 29

Akrilik Aesthetic

Art Rangers Acrylic Paints

Pastel variant

Harga: Rp 52.000 / 8 warna @ 22ml

Toko: mizzluphe17 / Meta Stationery (shopee)

Kalian bisa temuin yang harganya under Rp50.000, tapi waktu aku beli ini stok pastelnya kosong.


 

Hello and hi!

Cat yang mau kubahas kali ini agak berbeda; AKRILIK!

Sebelumnya, aku mau klarifikasi bahwa aku gak ada scholar knowledge apapun di bidang acrylic painting, tapi udah terbiasa pake cat akrilik sejak SD. Jauh sebelum aku pake cat air. Memang pengalamanku pake akrilik gak seluas pake cat air, jadi anggaplah ini sebuah honest review dari seorang aku.


Awal aku tau cat ini dari seorang teman dari luar negeri. Tahunan lalu. Dan baru-baru ini, seorang kenalan di Twitter bilang cat ini di jual di toko buku di Malang. Setelah browsing, ternyata ada yang jual di Jakarta!!!

Kalau kalian mau cari di Tokopedia atau Shopee, cukup ketik 'Art Rangers Acrylic'. Nanti akan muncul berbagai toko yang bisa kalian pilih berdasarkan harga dan kedekatan sama rumah kalian. Aku pribadi lebih suka belanja online yang satu wilayah (Jadebotabek), walau ada gratis ongkir. Why? Because I don't like waiting for my packages!

Cantik, ya?

Aku naksir cat ini karena packagingnya. That’s it. Awalnya kupikir skin care dari Korea tapi ternyata ada tulisan 'Acrylic'.

Art Rangers ngejual cat mereka dalam paketan. Varian warnanya, menurutku, agak unik. Ada yang glitter, pastel, basic. Satu set berisi 8 warna dan untuk yang pastel ini warnanya terdiri atas MeJiKuHiBiVi-Abu. Yes. Abu-abu. Entah mengapa harus ada warna ini. Mungkin menurut mereka abu-abu adalah versi pastelnya warna hitam?


Quick swatch on watercolor paper

Catnya agak cair. Gue membandingkan sama cat Maries dan Sakura yang biasa kupake yang cenderung pasta-like consistency

Sampai akhirnya kuaplikasikan di permukaan seperti plastik (tempat pensil, botol hand sanitizer, dan pill box). These paint are transparent!! 

Nggak nempel di permukaan benda dan butuh 3-4x apply baru bisa keliatan warnanya. Kucoba lapisin pake gesso putih pun gak ada bedanya sama apply langsung di benda. Tetep harus lapis 3-4x. Rasanya kayak lagi ngecat benda selain kertas tapi pake cat air. The color gathers at one area, making droplets-like di permukaan.


Art Rangers Acrylic on watercolor plastic palette
(dilapisi gesso + satu layer white paint)


Beberapa warna (kuning, hijau, violet), saking pastelnya malah berkesan gak ada warna. Setelah lapis ke-3 baru bisa keliatan hint warnanya. Bahkan saat diaplikasi di kertas (Canson Montval), warnanya harus 3x oles baru mau keliatan.

Oh! Untuk aplikasi di kertas gak banyak masalah, sih. Tapi warnanya redup banget dan agak butek malah. Kayaknya, lebih bagus warna pastel hasil campuran warna dasar dan putih dari brand lain.

Hasil kering catnya tetep pastel. Gak naik setingkat atau menggelap gitu. Khusus untuk warna kuning, kalau mau kasih highlight putih gak bakal keliatan.


Acrylic on transparent soft case
(Gesso'd)

So, far...

Aku suka cat ini karena varian warna yang ditawarin. 

Aku bukan tipe orang yang suka pake warna pastel, tapi sepaket cat ini membantu sewaktu-waktu butuh warna pastel atau sekadar untuk latihan. Harganya juga terjangkau apalagi isinya banyak banget. Worth the price? Yeah! It can also be nice photo properties and cute addition to your paint collection. Jangan lupa mampir ke Instagram untuk lihat contoh lainnya penggunaan akrilik ini, ya!

NB: This review is based on the product I received. Bisa aja produk yg kuterima gak se-oke produk yang diterima orang, many factors may affect the paint. Kalau catnya works nicely on your hand, that’s good. Just... don’t ‘NO!!’ me, ‘kay?

Tuesday, June 9

[Review] De Goya Artista Watercolor Pad

Ukuran: A6

Type: Cold-pressed

Tebal: 300gsm / 15 lembar / 25% Cotton

Harga: Rp 25,000-Rp30,000 (available online) - aku belinya di Artland Menteng Huis. Di Shopee, banyak toko yang jual produk ini. Harganya juga bervariasi sesuai daerah+ukuran.


Hello and Hi!

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir ke blog ini. Kalau ada pertanyaan, boleh langsung di kolom komentar atau kalo pengen fast respon bisa kontak melalui sosmed, ya. Link-nya sudah tersedia suatu tempat di blog ini :D

Jadi,

Kali ini aku mau mereview one of the cheapest watercolor paper I could find. Ini pun nemu gak sengaja waktu belanja di Artland and because its price, I decided to give it a try.

No matter how hard I tried to rotate the pic, dia selalu di posisi ini.
Please cooperate and rotate your phone instead ;;


Tampak belakang: bindingnya pake lem, ya.
Cuma satu sisi dan mudah untuk dirobek kalau mau misahin kertasnya


 

Kertas ini, sekali pandang keliatan banget teksturnya. Belakang depan hampir keliatan mirip, tapi waktu diraba, terasa banget mana yang depan dan belakang. The back side lebih halus.

Tekstur depan
Tekstur belakang


Sebenernya, aku gak begitu suka kertas yang bertekstur. Gaya gambarku ini komik Jepang jadi lebih seneng kalo kertasnya mulus. Tapi, begitu coba kertas ini, I changed my mind! 

(Also, shout out untuk orang-orang yang bisa notice the texture dari foto yang ku-upload, berkat kalian aku jadi sering-sering make kertas ini untuk tau keunggulan dan kekurangannya)

Warna yang disapukan di kertas ini terlihat lebih jreng. Waktu nyerapnya terbilang lama, jadi untuk bikin flat color dengan brush kecil, we have lots of time! Biasanya aku sapukan warna secara merata, lalu puk-puk pake tisu untuk dapetin warna yang soft. Kalau mau nebelin warna tinggal tunggu kering, baru kasih layer kedua. Kalau dalam keadaan basah udah kita kasih layer kedua, agak susah dapet warna yang jreng dan rata. Aku coba pake Mijello pun, warnanya jadi agak redup dan rata.

Daerah dekat bahu, cuma sekali usap.
Daerah kepala atas, dua kali usap
(Ada batas tegas yang bedain mana satu sapuan mana yang dua sapuan)
((Kenapa bisa begini? Tadinya cuma sekali sapuan, pas dicoba sapuan kedua warnanya terlalu jreng jadi buru-buru di-pukpuk))


Kucoba untuk niban warna jaune brilliant dengan abu-abu (lengan) hasilnya gak maksimal.
Ketika udah kering, warnanya akan tetap disitu dan gak bisa di-lift.
Warna kuning + ungu (flat color deket bunga) yang gak bisa nyatu bikin efeknya jadi seperti gambar kotor.


 
Untuk lifting atau ngangkat warna, kertas ini agak nyusahin.

Ketika cat kering sempurna, untuk lift color butuh kuas basah dan beberapa kali percobaan. Dua-tiga kali lift warna, yang keangkat cuma sedikit. Nggak brudul kok kertasnya, tapi warnanya gak berubah banyak. Jadi, misalkan mau bikin efek awan/fog/highlight lebih disarankan pakai white paint.

Hasil nyoba lifting warna (rumput)
Warna jadi gak maksimal dan keliatan teksturnya jadi rusak


Oh, iya!

Untuk bagian belakangnya, aku belum coba untuk pakai gambar, ya. Jadi nggak tau apakah bisa dua sisi atau nggak. Lagipula, aku tipe yang nggak suka gambar bolak-balik juga, jadi gak pernah nyoba deh.

Masuk ke karakteristik yang banyak ditanya sama orang; Kertasnya melengkung gak?

Yes. Kalau basah, di bagian yang basahnya bakal melengkung. Not much sampe bikin puddling atau bikin catnya malah keluar area yang diwarna. Begitu bagian yang basah itu kering, kertasnya balik lagi. Seperti sedia kala. Seperti tidak pernah melengkung.

Final word: 8/10


Kertas ini kurekomendasikan untuk pemula dan profesional. Terutama yang suka kertas bertekstur, kualitas high-end, harga wallet-fren(ly).


Sunday, May 17

[Review] Holbein Waterbrush

Harga: Rp49.000 (Available di Shopee)

Size: Medium


Sebelumnya, mau kukasih tau sedikit.

Kuas ini akan kubandingin sama beberapa waterbrush yang biasa kupake; KOI, Kuretake, De Goya, Pentel.

Hal pertama yang mau kubahas disini adalah; GEDE BANGET.

(Holbein Waterbrush vs Kuretake)


Dibanding sama waterbrush KOI, Pentel, dan De Goya, tube tempat isi airnya ini lebih besar. Lebih banyak nyimpen air jadi bisa lebih irit tenaga isi ulang kalau lagi travelling atau lagi gambar di cafe. Tube tempat airnya sendiri (ungu) panjangnya sekitar 12.5cm sedangkan brand lain kisaran 9-10cm. Diameter tube-nya juga sepertinya lebih panjang dibandingkan waterbrush lain. Nggak begitu kentara, sih. Mungkin sekitar 0.5cm bedanya. Kerasanya waktu dipegang, kayak lebih gede gitu.

Holbein Waterbrush


Material yang dipake untuk tube-nya sepertinya sama kayak waterbrush lainnya, karena pas dipegang kerasnya sama. Untuk brush-nya sendiri, terasa lebih keras dan kasar saat kering dibanding Pentel, Kuretake, dan De Goya. Ujung brush-nya kerasnya mirip-mirip sama KOI. Satu yang bikin waterbrush Holbein ini menarik karena warnanya beda dari waterbrush lain. Mayoritas brand lain warna brush-nya (mungkin karena sintetik, ya?) transparan atau agak kekuningan, tube-nya warna bening atau hijau (Kuretake) atau biru (Pentel).

Tapi,

Walaupun agak kasar dan keras, kuasnya kalo basah dan dipake mewarnai luwes banget. Bisa meliuk-liuk ngikutin gerakan tangan.

Secara fungsional, karena ini waterbrush, otomatis dia bakal lebih awet untuk dipake mewarnai karena kuasnya selalu basah. Yang bikin kuas ini beda adalah airnya nggak leaking dari tube air. Tanpa penekanan/pencetan di tube air, kuasnya nggak akan basah. Selama penyimpanan airnya nggak leak dna kuas bisa tetap kering. Untuk yang suka traveling, ini aman untuk terisi penuh sebelum bepergian. Aman juga dari jamur karena kuasnya bisa kering sempurna.

Satu yang agak bikin sedih,

Kuas ini punya brush bewarna putih. Karena aku makenya cat Whitenight yang staining banget, ujung kuasnya jadi berubah biru. Udah dicoba bersihin tapi tetep biru. Untungnya nggak ngaruh ke warna cat yang bakal kita pake, karena cuma ‘ngewarnain’ si kuas.

Sejauh ini, waterbrush Holbein ini menyingkirkan KOI (karena punyaku yang KOI kubuang) dan Pentel (ini juga kubuang karena aliran airnya ke-blok) dari daftar waterbrush favorite. 

Also my numero uno ‘traveling set’. 


Friday, April 3

[Tips] Cat Air Berjamur

Helo dan hai!
Postingan kali ini aku mau curhat sedikit dan sekaligus ngasih tips untuk art supply based on apa yang biasa kulakukan. Beberapa teknik ini hasil tanya-tanya sama temen dari forum cat air. 

Pertama kali ngalamin itu bulan September 2016. Cat air yang menjadi korban adalah warna hijau (lupa shade apa) dari brand Van Gogh. Inilah yang terjadi awal ditemukannya.



Pas buka palette kok ada putih2. Karna jijik, akhirnya kucongkel bagian putih2nya, ku-spray air keran, trus kupake lagi. Sambil browsing tentang mahluk apa yang menginfeksi cat airku ini, aku nemu istilah 'Mold' dan dari forum Wetcanvas + art youtuber. Jadi kalau di internet kalian suka denger/baca istilah "Mold on my watercolor", ya inilah yang terjadi.
Dari online forum, disaranin pake air bersih utk cegah jamuran. Mereka kadang nyebutnya aquadest atau air minum kemasan. Mereka nggak merekomen pake tap water karna kandungan airnya. Karena aku nggak tau apa kandungan di air keran rumahku, kuanggap biar aman pake air minum kemasan jauh lebih bersih. Jadi, cat yg terkontaminasi ini kubilas pake air mineral botolan. Bukan air keran.

Satu dua hari, catnya aman.
Jadi aku perlakuin biasa aja. Lalu, sebulan kemudian aku mau make utk gambar dan JRENG! Makin banyak, fluffy, dan parahnya palette kanan kiri kena. Si ijo ini paling parah, sih.

Karena sebanyak ini, kubuang semuanya + cuci pan nya.

Months after,
Aku beli cat dari brand berbeda dan pake pan bekas si Ijo (panggilan utk si cat berjamur). Nggak sempet kefoto, tapi cat itu ikutan jamuran, dong. Padahal belum dipake, baru Di-squeeze. Jadi aku browsing cara bersihin utk cegah jamurnya.
Saran paling banyak yang kutemuin di berbagai forum online pengguna cat air kurang lebih begini:
  • Kerok dan basahin Ini udh kucoba ke si Ijo, tp not working.
  • Spray alkohol/hand sanitizer Sempet kucoba dan emang jd bebas jamur, tapi setelah dicari lagi. Ternyata alkohol bisa nge-push pigment + kandungan gum-nya jd kering. Klo gum (si campuran cat air) kering, cat kalian jadi cuma pigment aja. Dan bikin (lama-kelamaan) cat kamu jadi powdery.
  • Puk2 pake tisu basah Tisu basah ada kandungan alkohol, jadi hanya efek bersihin sementara.
  • Guyur air Nah ini. Jamur tuh tumbuh di tempat lembab, ya. Jadi, kalo diguyur air, cuma ngebilas jamurnya. Catnya tetep basah dan kalo ga dikeringin sempurna malah bikin kambuh. Apalagi kalo ditaro di tempat gelap, makin subur jamurnya.

Kalo semuanya gabisa, trus diapain? Ini caraku bersihin (sekalian preserve sisa cat biar ngga sayang dibuang).
  1. Keluarin semua cat dari wadah, buang bagian yang berjamur. Kalau susah (cth: cat yg solid pan), Kerok jamurnya, rendam cat biar agak lunak trus keluarin
  2. Wadahnya cuci bersih pake air (boleh mineral water atau air keran). Pakein sabun apa aja yg ada. Kalo aku pake sabun yg ada antiseptiknya kadang pake sabun cuci piring. Gunain brush yg ga kepake biar selipannya kegosok juga. Trus keringkan. Keringinnya boleh dijemur di bawah matahari, boleh di kipasin atau dibiarin aja di suhu ruangan.
  3. Pakai hand sanitizer / alkohol 70% dan lapisin semua pannya. Abis itu keringin. Diemin di suhu ruangan aja cukup kok. Setelah kering baru deh bisa dipake lagi pan nya.
  4. Brush juga dicuci bersih karna takutnya pernah nyentuh cat terkontaminasi.


Kalau misalkan kalian mau keringin cat yg baru Di-squeeze di pan, aku saranin pake plastik dulu ditutupin baru dikeringin di depan kipas/Suhu ruangan.
Jangan dijemur di bawah matahari karna beberapa cat bakal cair kalo kena panas + ngerusak cat kalo sering dijemur. Plastik yg kupake itu bekas majalah. Bisa pake kresek atau plastik apapun yg kalian punya. Aku pernah pake plastik mika buat jilid juga, kok. Taro aja diatasnya.



Tujuannya biar catnya kering tapi ga directly kena angin. Saat masih lembab, beresiko soalnya.
Kalo kondisi kamar kalian lembab dan cenderung gelap (no akses jendela), boleh di jemur di luar. Tapi posisi palette / cat kalian tutupin kertas atau sesuatu diatasnya. Jadi ga direct kena sunlight dan hanya kena 'panas'nya aja. Biasanya aku ditaro di beranda pas pagi. Jadi warm. Sejauh ini, cara aku lumayan efektif dan preventive buat cat yg moist. Atau kalo mau lebih aman, pake palette metal. Tapi agak mahal, sih apalagi kalo cat kalian banyak



Metal palette ini baru kuaplikasi buat cat sejenis M.Graham dan Sennelier yang gabisa kering. Tapi buat yg pake palette plastik, cara yg aku share lumayan efektif. Sekian saran dariku. Kalo ada yg mau nambahin dipersilahkan. Misalkan mau belajar lebih lanjut, coba forum WetCanvas aja. Lumayan informative

Friday, March 27

[Review] Mont Marte Watercolor Pad


Ukuran: A5
Tebal: 300gsm / 12 lembar / Rough Tooth
Harga: Rp55,000 (TGA Kwitang)


Hello and hi!

Kali ini kertas yang mau kureview adalah produk dari Jerman; Mont Marte. Aku baru tau kertas merk ini setelah muterin TGA Kwitang dan baru-baru ini aku tau bahwa watercolor pad ini ada yang jual di Shopee.



First of all,
Ini pad pertama yang kubeli dan covernya pake lukisan cat air. 
Di covernya tertera pelukisnya. Kalo kita liat banyak tulisan dan logo gitu, ya. Jadi kalau miss, bisa nggak tau itu watercolor pad dan nyangka itu majalah. Hehe.

Pad ini binding satu sisi. Begitu dibuka, bagian belakang cover ada watercolor painting tips. Ini juga menurutku nggak biasa idenya. Beda aja dari beberapa pad yang pernah kupake sebelumnya.
Kertasnya nggak putih titanium, ada sedikit hint kuning tapi nggak sekuning Reeves. Aku suka karena gambarku biasanya lebih ke arah warm dan pas diedit pun aku cenderung make filter seperti Sepia untuk bikin efeknya makin ‘kuning’.

Seperti klaim di covernya, kertasnya bergerigi kasar alias rough tooth alias bertekstur. Sebenernya not to my liking, aku lebih prefer kertas yang lebih smooth, tapi kertas ini bikin jatuh cinta. Bagian belakang kertasnya lebih smooth, tapi sampai review ini dibuat, aku belum coba apakah sisi belakang bisa dipake.

Saat dipake untuk sketch, kertasnya nggak kotor saat pensilnya ke-smudge. Untuk dipakein hapusan juga nggak brudul. Tapi, karena kertasnya ini heavily textured, ketika kita goresin pensil/drawing pen bakal terasa gradakan + butuh beberapa kali goresan kalau mau garis yang mulus.

Untuk warna,
Surprisingly pake kertas ini bikin warna cat makin keliatan gonjreng. Bahkan warna kuning dari beberapa brand cat terlihat jadi super shiny dan neon begitu kering. Untuk mix di kertas, karena nggak cepet kering, kita bisa punya cukup waktu untuk mixing dan begitu kering juga tetep bisa di lift pakai kuas basah. Tapi, untuk beberapa cat, kalau dicoba mix warna di kertas / wet on wet / lift dengan kuas yang terlalu basah, bakal bikin kertasnya brudul. Nggak yakin mana brand yang bikin brudul atau emang aku yang pakai kebanyakan air. Nanti setelah beberapa kali trial mungkin bisa ku-update review ini.

Sejauh ini, kalau mau kering sempurna, aku coba diangin-angin depan kipas semaleman atau panasin di tempat yang ada matahari. But, no direct sunlight karena bisa memengaruhi ketahanan warna catnya. Ohiya! Kertas ini nggak keriting loh! Aku kaget ternyata dia cukup tahan untuk basah-basahan dan keringnya juga bisa lurus lagi ^^



Untuk saat ini, aku lebih suka kertas Mont Marte dibanding Arto ataupun Canson. Tapi untuk ketersediaan, tetep Canson yang menang. Untuk yang mau beli online, di Bandung ada yang jual ternyata (Shopee) dengan harga lebih murah.

Sekian review singkat dariku.
Sampai jumpa di post selanjutnya ^^