Showing posts with label buku sketsa. Show all posts
Showing posts with label buku sketsa. Show all posts

Tuesday, June 9

[Review] De Goya Artista Watercolor Pad

Ukuran: A6

Type: Cold-pressed

Tebal: 300gsm / 15 lembar / 25% Cotton

Harga: Rp 25,000-Rp30,000 (available online) - aku belinya di Artland Menteng Huis. Di Shopee, banyak toko yang jual produk ini. Harganya juga bervariasi sesuai daerah+ukuran.


Hello and Hi!

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir ke blog ini. Kalau ada pertanyaan, boleh langsung di kolom komentar atau kalo pengen fast respon bisa kontak melalui sosmed, ya. Link-nya sudah tersedia suatu tempat di blog ini :D

Jadi,

Kali ini aku mau mereview one of the cheapest watercolor paper I could find. Ini pun nemu gak sengaja waktu belanja di Artland and because its price, I decided to give it a try.

No matter how hard I tried to rotate the pic, dia selalu di posisi ini.
Please cooperate and rotate your phone instead ;;


Tampak belakang: bindingnya pake lem, ya.
Cuma satu sisi dan mudah untuk dirobek kalau mau misahin kertasnya


 

Kertas ini, sekali pandang keliatan banget teksturnya. Belakang depan hampir keliatan mirip, tapi waktu diraba, terasa banget mana yang depan dan belakang. The back side lebih halus.

Tekstur depan
Tekstur belakang


Sebenernya, aku gak begitu suka kertas yang bertekstur. Gaya gambarku ini komik Jepang jadi lebih seneng kalo kertasnya mulus. Tapi, begitu coba kertas ini, I changed my mind! 

(Also, shout out untuk orang-orang yang bisa notice the texture dari foto yang ku-upload, berkat kalian aku jadi sering-sering make kertas ini untuk tau keunggulan dan kekurangannya)

Warna yang disapukan di kertas ini terlihat lebih jreng. Waktu nyerapnya terbilang lama, jadi untuk bikin flat color dengan brush kecil, we have lots of time! Biasanya aku sapukan warna secara merata, lalu puk-puk pake tisu untuk dapetin warna yang soft. Kalau mau nebelin warna tinggal tunggu kering, baru kasih layer kedua. Kalau dalam keadaan basah udah kita kasih layer kedua, agak susah dapet warna yang jreng dan rata. Aku coba pake Mijello pun, warnanya jadi agak redup dan rata.

Daerah dekat bahu, cuma sekali usap.
Daerah kepala atas, dua kali usap
(Ada batas tegas yang bedain mana satu sapuan mana yang dua sapuan)
((Kenapa bisa begini? Tadinya cuma sekali sapuan, pas dicoba sapuan kedua warnanya terlalu jreng jadi buru-buru di-pukpuk))


Kucoba untuk niban warna jaune brilliant dengan abu-abu (lengan) hasilnya gak maksimal.
Ketika udah kering, warnanya akan tetap disitu dan gak bisa di-lift.
Warna kuning + ungu (flat color deket bunga) yang gak bisa nyatu bikin efeknya jadi seperti gambar kotor.


 
Untuk lifting atau ngangkat warna, kertas ini agak nyusahin.

Ketika cat kering sempurna, untuk lift color butuh kuas basah dan beberapa kali percobaan. Dua-tiga kali lift warna, yang keangkat cuma sedikit. Nggak brudul kok kertasnya, tapi warnanya gak berubah banyak. Jadi, misalkan mau bikin efek awan/fog/highlight lebih disarankan pakai white paint.

Hasil nyoba lifting warna (rumput)
Warna jadi gak maksimal dan keliatan teksturnya jadi rusak


Oh, iya!

Untuk bagian belakangnya, aku belum coba untuk pakai gambar, ya. Jadi nggak tau apakah bisa dua sisi atau nggak. Lagipula, aku tipe yang nggak suka gambar bolak-balik juga, jadi gak pernah nyoba deh.

Masuk ke karakteristik yang banyak ditanya sama orang; Kertasnya melengkung gak?

Yes. Kalau basah, di bagian yang basahnya bakal melengkung. Not much sampe bikin puddling atau bikin catnya malah keluar area yang diwarna. Begitu bagian yang basah itu kering, kertasnya balik lagi. Seperti sedia kala. Seperti tidak pernah melengkung.

Final word: 8/10


Kertas ini kurekomendasikan untuk pemula dan profesional. Terutama yang suka kertas bertekstur, kualitas high-end, harga wallet-fren(ly).


Friday, March 27

[Review] Mont Marte Watercolor Pad


Ukuran: A5
Tebal: 300gsm / 12 lembar / Rough Tooth
Harga: Rp55,000 (TGA Kwitang)


Hello and hi!

Kali ini kertas yang mau kureview adalah produk dari Jerman; Mont Marte. Aku baru tau kertas merk ini setelah muterin TGA Kwitang dan baru-baru ini aku tau bahwa watercolor pad ini ada yang jual di Shopee.



First of all,
Ini pad pertama yang kubeli dan covernya pake lukisan cat air. 
Di covernya tertera pelukisnya. Kalo kita liat banyak tulisan dan logo gitu, ya. Jadi kalau miss, bisa nggak tau itu watercolor pad dan nyangka itu majalah. Hehe.

Pad ini binding satu sisi. Begitu dibuka, bagian belakang cover ada watercolor painting tips. Ini juga menurutku nggak biasa idenya. Beda aja dari beberapa pad yang pernah kupake sebelumnya.
Kertasnya nggak putih titanium, ada sedikit hint kuning tapi nggak sekuning Reeves. Aku suka karena gambarku biasanya lebih ke arah warm dan pas diedit pun aku cenderung make filter seperti Sepia untuk bikin efeknya makin ‘kuning’.

Seperti klaim di covernya, kertasnya bergerigi kasar alias rough tooth alias bertekstur. Sebenernya not to my liking, aku lebih prefer kertas yang lebih smooth, tapi kertas ini bikin jatuh cinta. Bagian belakang kertasnya lebih smooth, tapi sampai review ini dibuat, aku belum coba apakah sisi belakang bisa dipake.

Saat dipake untuk sketch, kertasnya nggak kotor saat pensilnya ke-smudge. Untuk dipakein hapusan juga nggak brudul. Tapi, karena kertasnya ini heavily textured, ketika kita goresin pensil/drawing pen bakal terasa gradakan + butuh beberapa kali goresan kalau mau garis yang mulus.

Untuk warna,
Surprisingly pake kertas ini bikin warna cat makin keliatan gonjreng. Bahkan warna kuning dari beberapa brand cat terlihat jadi super shiny dan neon begitu kering. Untuk mix di kertas, karena nggak cepet kering, kita bisa punya cukup waktu untuk mixing dan begitu kering juga tetep bisa di lift pakai kuas basah. Tapi, untuk beberapa cat, kalau dicoba mix warna di kertas / wet on wet / lift dengan kuas yang terlalu basah, bakal bikin kertasnya brudul. Nggak yakin mana brand yang bikin brudul atau emang aku yang pakai kebanyakan air. Nanti setelah beberapa kali trial mungkin bisa ku-update review ini.

Sejauh ini, kalau mau kering sempurna, aku coba diangin-angin depan kipas semaleman atau panasin di tempat yang ada matahari. But, no direct sunlight karena bisa memengaruhi ketahanan warna catnya. Ohiya! Kertas ini nggak keriting loh! Aku kaget ternyata dia cukup tahan untuk basah-basahan dan keringnya juga bisa lurus lagi ^^



Untuk saat ini, aku lebih suka kertas Mont Marte dibanding Arto ataupun Canson. Tapi untuk ketersediaan, tetep Canson yang menang. Untuk yang mau beli online, di Bandung ada yang jual ternyata (Shopee) dengan harga lebih murah.

Sekian review singkat dariku.
Sampai jumpa di post selanjutnya ^^

Monday, March 2

[Review] Oxford Croquis Sketchbook


Harga: Rp 38,000 (TGA Kwitang)
Ukuran: 149mm x 210mm

Okay,

Taun 2020 awalnya nggak mau beli sketchbook dulu. Mau ngabisin sketchbook lama yang masih ada ratusan lembar karena jarang dipake. Apalagi sketchbook yang ketemu random di toko alat tulis. Waktu di TGA Kwitang, aku nemu sketchbook lucu ini. Karena warnanya lucu dan harganya murah meriah, ka-ching!



Jadi setelah dicari tau, brand ini aslinya punya Korea (paperkorea.net). Biasanya brand ini bikin planner, jurnal, dan berbagai macam kertas. Sketchbook ini adalah salah satu produknya.
Cover luarnya, selain warnanya lucu, ada teksturnya kalo dipegang. Oddly satisfying buat dipegang. Seingetku waktu beli ada dua varian warna, Ijo-coklat kucing sama pink coklat kafe gitu. Dia ada beberapa ukuran kurang lebihnya ukuran A4, A5, dan kayaknya ada yang pocket juga.

Kertasnya lumayan tebel dan sketchbooknya sendiri berat. Bukan masalah besar, sih.

Warna kertasnya putih kayak sketchbook Fabercastell dan Kiky, tapi permukaannya terasa lebih kasar di tangan.

Karena aku nggak ada pensil warna, jadi kucoba langsung pake pensil 2B Fabercastell. Saat dipake mengarsir nggak bertekstur kayak Kiky. Hasilnya tetap ketutup sempurna alias nggak bolong-bolong. Buat ngapus juga nggak bikin brudul.


Aku nyobain untuk marker yang alcohol-based. Kertas ini nyerap tintanya cepet dan bikin warnanya jadi less saturated. Beberapa warna neon yang selama ini nggak kupake jadi keliatan less neon dan enak diliat. Memang keliatan agak brutusan kayak ada titik-titik putih (keliatan kayak berpori gitu) tapi, menurutku ini malah bikin tinta spidolnya nyatu sama si kertas. I love this kind of texture.

Kertas ini susah untuk blending beberapa warna. Karna cepet banget kering/nyerap, buat blend 2-3 warna dari satu kode susah banget. Jadi bagusnya kalau mau mewarnai yang gambarnya kecil-kecil dan kalo mau ngasih shading, bisa dilayer pake warna yang sama aja. Nggak perlu mix beberapa warna. Ini berlaku juga buat highlighter atau spidol warna lainnya, ya.


To sum it up, aku suka sketchbook ini. Untuk dibawa-bawa sebagai ‘wadah’ inspirasi pas jalan atau untuk ilustrasi yang sederhana. Buat journal juga sebenernya oke banget. Jadi, kalo kalian nemu brand ini di local book/stationery store, wajib kalian icip-icip :D

Monday, February 3

[Review] Canson Heritage

Cold pressed – Grain Fin
300gsm / 12 lembar
100% Cotton
Ukuran: 23cm x 31 cm
Harga: Rp 340.000 (Paperclip)

Halo dan hai!
Kali ini kureview salah satu produk termahal dari Canson.


Produk ini ada tiga varian; Merah (Grain satin hot pressed), Kuning (Grain Fin cold pressed), Biru (Rough Grain Torchon). Ketebalannya juga ada dua jenis 300gsm dan 640gsm. Untuk ukuran, di Indonesia (khususnya paperclip) sepertinya baru menyediakan dua size watercolor pad; 23  x 31 cm dan 26 x 36 cm. Tapi kalo kalian check di websitenya, tersedia 4 size untuk pad dan juga bentuk gulungan.

Untuk skala 300gsm, kertasnya berasa agak tipis dibanding yang Canson XL. Teksturnya lebih kasar dibanding cold pressed pada umumnya.


Untuk hasil warna,
kertas ini mirip Arches. Saat diusap warnanya sejreng itu tapi begitu kering the brightness faded; warnanya jadi lembut. Bukan jadi pastel, ya. Cuma jadi less saturated. Untuk bisa dapet shade yang gelap, high saturate dan jreng perlu beberapa kali aplikasi. Terutama kalo mau warna jet black; use less water dan apply it 2-3 times.

Maimeri blu & Winsor Newton on Canson Herigate


Kertasnya ini, menurutku punya karakteristik mirip Canson pada umumnya; bergelombang parah kalau dipake wet on wet. Tapi dengan pengeringan yang bener dan kita press/setrika, bisa lurus lagi.

Down side-nya,
Kertas ini cepet banget kering dan nyerep pigmen. Walaupun untuk lifting dia ngangkat banget pigment di kertasnya, tapi itu pun harus beberapa kali diusep+kuasnya nggak begitu basah. Kertas biasa kalo diginiin biasanya brudul dan jadi tipis, tapi Canson Heritage bisa tahan, kok.

Paints easily spread like a disease.
Kalau memang mau bikin detailed painting, disarankan pakai ukuran brush yang lebih kecil. Semakin besar dan basah kuasnya (apalagi kalau kertasnya setengah basah/lembab), catnya bakal spreading wildly. This paper, my dear, kurang cocok untuk yang suka gambar dengan style mewarnai cell-shade. Kalau kalian punya problem dengan 'mewarnai keluar garis', stay away from this paper.
Selain itu, kertas ini kayaknya butuh maintenance yang super hati-hati. Jangan ditaro di tempat lembab dan pastiin kering. Karena bisa (not sure if this is the proper way of saying) moldy. Efeknya kalau kita aplikasiin cat, warna nggak akan nyerap dan bisa keliatan kehijauan.

Apakah puas dengan kertas ini? Yes. Absolutely. Mungkin agak bias, tapi Canson product never fails me.
Second time purchase? Not sure.
Mungkin untuk seri warna lain bakal coba, sih. Penasaran sama hot pressed-nya.

Thursday, December 26

[Review] Arto Sketchbook

Tebal: 135gsm
Size: A4
Jumlah:25sheets
Harga: Rp23,200 di Paperclip Kokas




Kertasnya warna putih kayak HVS tapi teksturnya mirip sketchbook Kiky. Licin dan mulus gitu.
Buat copic.....JUARA! (Kertas ini suci banget buat Copic!)




Layering-nya smooth banget kayak pake Maruman. Ga menghasilkan tumpukan warna kayak pake spidol di kertas hvs gituuu. Dengan beberapa kali layer bisa dapet warna yg lebih gelap jd bisa hemat beli warna Copic.

Sketchbook Arto ini bahkan menurutku lebih 'layak' daripada kertas marker-nya Copic maupun Xpress-it. Nembus ke belakang pastinya. Tapi bisa diakali dg pakai alas plastik mika yang buat jilid makalah atau karton. Singkat cerita, ini versi agak murahnya dari Maruman.

Buat sketch pensil / pen juga enak. 

Kelemahannya cuma bau kertasnya yang agak apek, Entah karena emang stok lama di gudang atau emang kertasnya yang bau. Oh! Dan kertas ini kalo dipake untuk pensil warna, seperti Kiky, bakal bolong-bolong bertekstur gitu. Mungkin dengan teknik blending pensil warna yang baik dan benar ini bisa diakalin.

Sejauh ini belum nemu kelemahan yang berarti banget. Mungkin akan di update kalau ada perubahan pendapat ^^

Adakah yang pernah coba kertas ini?
Gimana pendapat kalian?

Friday, March 17

Topik 2: Sketchbook

Halo~!

Setelah 4 tahun, akhirnya muncul keinginan untuk meneruskan blog ini. Kali ini, di tengah waktu libur sambil menanti yudisium dan ujian OSCE lokal, gue mau mencoba berbagi sedikit informasi mengenai SKETCHBOOK / BUKU SKETSA.

Sebelum memulai lebih lanjut, gue mau mengingatkan bahwa semua brand dan alat-alat yang tercantum di blog ini bukan produk sponsor. Semua dibeli dengan uang sendiri, hadiah dari kerabat, dan beberapa adalah hadiah dari lomba/event. Sebisa mungkin gue akan membahas secara detail berdasarkan apa yang gue lihat dan gue rasakan selama memakai barang-barang ini. Harga dan tempat dimana kalian bisa menemukan barang-barang yang tercantum juga akan disebutkan secara men-detail. 

Beberapa barang ini udah lama banget gue dapetin/beli, jadi harap maklum kalo ada perbedaan harga/warna/variasi/bentuk/ukuran/lokasi penjual.

Oke, langsung aja masuk ke topik kedua ini; SKETCHBOOK.



Kalo menurut wikipedia, sketchbook itu adalah buku dengan lembaran kosong yang biasa dipakai oleh seorang seniman untuk menggambar atau melukis. Gue pribadi sih lebih seneng menyebutnya buku gambar. Tapi, pernah gue ditegur sama orang karena pendapat gue ini. Kata itu orang 'buku gambar / drawing book' itu beda sama 'buku sketsa/sketchbook'. Gue mencoba bertanya dimana letak perbedaannya (selain di ejaan, tentunya), tapi ini orang nggak bisa menjelaskan. Sampe sekarang pun gue masih belum tau dimana letak bedanya dan mengharapkan ada yang bisa menjelaskan secara jelas dan terperinci (lebih bagus kalo ada jurnal pendukung atau contoh, lol).

Gue nggak mau ber-panjanglebar menjelaskan tentang sketchbook. Jadi, gue bakal langsung ngasih review beberapa sketchbook yang pernah dan masih gue pakai sampai sekarang. Kalo kalian mau tau sejarah atau proses pembuatan atau apalah itu, kalian bisa google-ing sendiri. Jangan malas~

1. Sketchbook Lyra





Harga: Rp15,000-Rp50,000
Ukuran: A5, A4, A3
Refill: Tersedia (Rp6,000-Rp30,000)
Bisa dibeli di: Gramedia, TGA, Paperclip, Tokopedia, Smartyhands, Enportu, Toko Prapatan 21, Alat Lukis, dll.

Ini salah satu brand sketchbook yang paling gampang dicari karena ada hampir di semua toko buku. Gue terakhir beli ini untuk dipake sendiri tahun 2011 dan nggak pernah make lagi hingga detik ini.

Cover-nya dari plastik yang kokoh dan enak untuk dijadiin alas (tapi ga rekomen untuk gambar langsung diatasnya, karena gradakan...) dan jilid-annya memungkinkan untuk diisiulang. Harganya ekonomis bisa dibeli pelajar dan karena kertasnya enteng banget, enak untuk dibawa-bawa. Untuk dipake sketsa dengan pulpen juga oke, kok.

Tampak belakang penggunaan spidol


Tekstur saat pakai cat air


Gue nggak begitu suka kertasnya karena kalau dipake untuk sketsa pensil jadi kotor. Kalau dihapus pun nggak bisa 'ngasal' karena kertasnya terlalu fragile dan mudah ngelupas (brudul gitu). Untuk make cat air pun, mau itu cat air mahal maupun cat air yang kita pake jaman SD, efeknya jadi kasar dan chalky kalo diusap. Untuk dipakein spidol juga kurang oke karena nembus ke halaman belakangnya dan bisa sampe kena di lembar selanjutnya, tapi ini tergantung pemakaian spidolnya juga sih, ya. Karena gue selalu nge-layer berkali-kali, jadi kemungkinan untuk bocor lebih gede.

Seiring waktu berlalu, kalo gue perhatiin kertasnya jadi makin 'lembek'. Warna kertasnya pun jadi kayak 'kotor' gitu.

Walaupun banyak nilai minusnya di mata gue, ini sketchbook oke untuk yang baru belajar atau baru mau coba-coba pake sketchbook. Sejauh ini, di forum-forum gambar lokal, gue sering liat banyak yang make dan banyak juga yang make catair/spidol untuk ini sketchbook.

2. Sketchbook Kiky

Harga: Rp9,000-Rp30,000
Refill: Tidak Tersedia
Ukuran: A3, A4, A5
Bisa dibeli di: Gramedia, TGA, Toko Prapatan 21



Ini sketchbook favorit!!!
Dibanding merk sebelumnya yang gue sebutin diatas, gue lebih suka pake ini. Kenapa?

Harganya terjangkau, gampang didapetin karena ada di toko buku di seluruh penjuru Jakarta (Iya, yang gue tau cuma toko buku di Jakarta. Gue nggak pernah main ke toko buku daerah lain...), cukup tebal jadi nggak mesti beli-beli mulu, ukurannya beraneka ragam, kertasnya nggak mengalami perubahan warna/tekstur walaupun disimpen lama.

Gue suka make ini sketchbook untuk sketsa pensil maupun spidol. Kertasnya nggak ada tekstur alias licin-licin gitu, kayak karton manila gitu lah kurang lebih. Bisa dipake depan-belakang juga. Gue nggak menyarankan untuk dipakein cat air karena emang gue gapernah nyobain, tapi kayaknya sih kertasnya bakal lebih kuat dan ga brudul.




Minusnya dari sketchbook ini, karena cover depan dan belakang dari karton jadi kalo mau dibawa-bawa mesti ekstra hati-hati. Selain itu, karena ini dijilidnya pake lem jadi gampang banget copot + gabisa nyaman ditekuk-tekuk. Untuk pemakaian spidol yang multi-layer juga nembus sampe ke lembar belakangnya jadi mungkin kalo mau make spidol kudu dilapisi plastik atau kertas mika dulu.

3. Sketchbook Canson

Harga: - (Ini gue dibeliin waktu jaman gue SMA sama bokap dan kurang tau apa sekarang masih dijual atau nggak.)
Ukuran: A5 (Seinget gue dulu ada ukuran A4 dan A6 tapi gue nggak yakin...)
Bisa dibeli di: Gramedia




Ini sketchbook adalah sketchbook pertama yang dibeliin bokap gue. Jadi dulu itu bokap gue jalan-jalan sama adek gue, terus gue cuma bilang "Nitip sketchbook". Gue udah berharap bakal dapet yang Lyra atau Kiky, tapi pas liat dapetnya merk Canson. Ini merk yang gapernah gue denger sebelumnya dan pas gue liat harganya juga lumayan mahal pada masa itu (kisaran +/-Rp50,000). 

Isinya sebenernya mirip sama sketchbook Kiky. Yang membedakan cuma jilidnya spiral kawat, covernya dari semacam plastik keras gitu (mirip cover Lyra tapi lebih alus), dan harganya. Sisanya semua sama aja kok.

4. Drawing Book Kiky

Harga: Rp5,000-Rp20,000
Ukuran: A5, A4, A3
Bisa dibeli di: Gramedia, Paperclip, TGA, dan toko buku lainnya.







Gue beli ini karena gue butuh buku sketsa yang enteng, luas, dan murah. Biar bisa diselipin di buku catetan/textbook kuliah dan bisa gambar disaat ada dosen. Untuk ukuran A5 gue beli harganya Rp4,000-an gitu dan variasi desain covernya banyaaaaak banget. Selain Kiky, seinget gue ada merk Joyko dan merk lainnya kayak SIDU, dll.

Overall, ini recommended untuk sketsa yang murni iseng-iseng. Kualitasnya ga jauh beda sama buku gambar yang biasa lo beli di warung-warung yang covernya Mr.Smiley dengan warna Ijo/Oren/Kuning hits. Untuk cat air kertasnya mungkin bakal bergelombang dan mungkin brudul. Untuk spidol ga bagus untuk blending dan nembus. Tapi untuk pensil warna oke nih. Kertasnya licin jadi bisa mulus hasilnya.

5. Sketchbook Tak Ber-Merk

Harga: +/- Rp20,000-Rp300,000
Ukuran: A6, A5, A4
Bisa dibeli di: Toko alat tulis lucu-lucu yang namanya sejenis 'Warna', 'Bunga', 'Naughty', 'Lala'. Scoop (GI / Kelapa Gading), Artbox (Ini toko pernak-pernik dari Korea, dulu ada di Kelapa Gading, ntah sekarang dimana bisa ditemui), Gramedia.

Karena ini belinya udah lama dan covernya cuma karton, jadi udah lepas dan nggak ada contoh cover depannya ;;



Gue menyebutnya Tak Ber-Merk karena memang di tiap toko mereka punya brand berbeda. Sering gue memperhatikan mereka ini kalo bukan buatan China ya buatan Korea. Ciri khasnya covernya selalu bikin pengen beli karena ada quotes-quotes yang unyuu~ atau gambar-gambar yang men-trigger niat gambar (di Artbox gambarnya sketsa pensil/pulpen terus ada quotes "Let's Draw''). Kadang ada yang hardcover ada juga yang softcover pake karton gitu. Mayoritas jilid spiral kawat dengan pilihan kertas warna putih dan kertas coklat (Toned Paper/craft paper)

Kertasnya tipiiiiis banget. Kayaknya sih 70gsm. Licin. Enak untuk dibawa-bawa dan sketch kasar kalau lagi dijalan atau mendadak ada ide sebelum dieksekusi gitu.

Harganya, menurut gue, nggak bersahabat. Dengan harga setara, gue lebih milih beli sketchbook Kiky. Tapi, kadang desain dari sketchbook tak ber-merk ini emang bikin lupa diri, sih ^^;;

6. Sketchbook Maruman "Zuan Series"

Harga: Rp50,000-Rp150,000
Ukuran: A5, A4, B5
Bisa dibeli di: Paperclip, Smartyhands, Monomania





Ini paling favorit diantara semua sketchbook.
Untuk segala alat gambar bisa dipakai dan bisa dibilang ini sketchbook ter-perfect!

Untuk spidol, pas dipake untuk blending bisa mulus. Nggak ada efek tumpang-tindihnya. Walaupun merembes sampai halaman belakang, lembar setelahnya nggak ikut kena. Untuk cat air juga juara! Bisa dipakein banyak air dan nggak brudul. Kertasnya ber-tekstur dan pas banget untuk yang pake pensil warna~
Media cat air

Hasil pemakaian spidol - tampak belakang

efek pemakaian pensil warna

teksturnya indah~


Untuk ukuran A4 harganya Rp58,000 di Paperclip dan kalau beruntung biasanya suka ada diskon up to 30% untuk member atau voucher diskon Rp10,000. Kalau mau beli online bisa coba cek di link yang disebutkan di atas.

Satu-satunya kelemahan dari sketchbook ini adalah susah nyarinya. Karena, di Paperclip walaupun mereka memang nge-stock, suka habis tiba-tiba dan mesti keliling satu Jakarta nyari di cabang lainnya baru bisa ketemu ;;

7. Loose Leaf / Kertas Binder

Harga: Rp5,000-Rp20,000
Ukuran: A5 dan A4
Bisa dibeli di: Gramedia, Paperclip, TGA, tokobuku setempat, tukang fotokopi, dll.




Ini sebenernya bukan sketchbook dan cuma ekstra aja. Gue suka males bawa banyak barang jadi kadang supaya bisa tetep gambar di tengah kuliah yang padat, gue sengaja beli refill binder/loose leaf yang polos. 

Merk yang ditawarkan beragam. Ada Kiky, Joyko, Toyo, Kokuyo, dll.
Harga yang ditawarkan pun beragam, tergantung brand dan dimana kalian belinya. (Sejauh ini brand Kokuyo yang menurut gue paling mahal).

Kertasnya sih, simpel. Cuma HVS 70gsm / 80gsm yang dibolongin dan dimasukin ke binder. Temen gue bahkan saking malesnya ngeluarin duit, dia bolongin sendiri ;; Gue pernah nyoba sih, tapi karena gue mager jadi mending beli yang udah jadi :') Eitss, tapi hati-hati~! Ada brand tertentu yang kertasnya sedikit lebih tebal, warnanya agak broken white (agak kuning), dan kertasnya liciiiin banget untuk dipakein pensil.

8. Scribblebook Multipaper Area52

Harga: Rp160,000
Ukuran: 12cm x 19cm
Bisa dibeli di: Area52 Studio




Seperti namanya, multipaper, sketchbook ini punya dua kertas berbeda. Yang satu kertas Ivory 170gsm dan Canson Montval 185gsm.

Kertas Ivory ini tebal dan cocok untuk sketsa pensil, pena, maupun spidol (Tapi kurang cocok untuk layering dengan spidol). Kelemahannya menurut gue cuma satu, kertasnya agak broken white, jadi kalo mau benerin kesalahan pake tipe-x atau tinta putih malah kontras banget.

Kalau kertas Canson Montval ini cocok banget untuk cat air. Belakang-depan bisa dipake. Awalnya memang bakal gelombang kalo terlalu banyak air, tapi kalau di-press benda berat bakal lurus lagi, kok~

Covernya dari faux leather dengan banyak variasi warna. Gue beli yang merah supaya seksi~ hehe Sebenernya bisa pesen online, tapi waktu itu gue kebetulan nemu booth-nya di Popcon 2016 dan udah ga sabar nunggu jadi beli OTS. 

Buat yang pengen beli Moleskine tapi kemahalan, ini bisa jadi alternatif~
Kalau nggak butuh kertas cat Canson kalian bisa beli yang classic, kok. Atau yang full kertas Canson semua juga ada~

9. Copic Marker Pad

Harga: +/- Rp200,000
Ukuran: A4 dan A3
Bisa dibeli di: Paperclip


Ini kertas paling nggak recommended yang gue cantumin.
Kertas official dari Too, perusahaan pemilik Copic, ini sebisa mungkin jangan dibeli kecuali kalian mau buang-buang uang dan koleksi kertas.

Kertasnya setipis kertas kalkir, agak nerawang, dan licin.

Setiap warna copic yang dioles di kertas ini bakal jadi lebih terang 2-3 level. Jadi, kalau yang biasa make warna dengan jumlah 0 lebih dari 2 (ct. R00, R000, R0000), lebih baik urungkan niat dan beli Maruman Zuan Series aja.



Untuk layering juga nggak banget dan untuk di-blend, bakal ada efek bintik-bintik putihnya. Tapi, brand ini jauh lebih baik dan bersahabat dengan pensil dibanding Marker Pad keluaran brand Winsor Newton. 

Sejak dibeli, gue baru make ini kertas 'secara serius' beberapa kali dan akhirnya kini gue jadiin sarana untuk nempel koleksi stiker/washitape dan swatch warna spidol.

Sebenernya masih banyak variasi sketchbook lain di luar sana, tapi gue belum mencoba langsung :') Kalau ada update variasi lainnya bakal langsung gue post, kok ^^

Sekian dulu ya tulisan dari gue. Semoga bisa bermanfaat dalam pertimbangan dalam mencari sketchbook idaman. Kira-kira dari semua yang udah gue sebut diatas, brand apa yang biasa kalian pakai? Boleh dong bagi-bagi pengalamannya juga~

Kalau ada pertanyaan bisa langsung kontak akun-akun yang ada di menu CONTACT dan sampai jumpa di tulisan gue selanjutnya ~ ^^